Seperti aku, kuceritakan semua masalahku kepada temanku, tanpa ada satupun yang aku tutupi. Dari situ aku merasa sangat beruntung punya mereka yang sangat setia menemani,punya mereka yang mau mendengarkan masalah-masalah konyolku,mulai dari masalah uang, teman, hingga gebetan, aku senang punya mereka yang tidak pernah pergi. Tapi terkadang aku merasa mereka tidak beruntung punya teman seperti aku, yang jujur menurutku, aku sangat membosankan, datang hanya ketika aku butuh mereka ,sedang ketika mereka membutuhkan aku, aku terkadang malah pergi. Aku memang egois, aku sudah mengaggap semua orang sama hanya karena sesorang yang pernah sedekat urat nadi kemudian pergi sejauh matahari.
Sejahat itukah aku ?.
Sore itu juga menyadarkan aku, bahwa ternyata ada seseorang yang ingin menjadi temanku, lebih dekat denganku tetapi dia berpikir ulang untuk dekat dengan aku dan memilih pergi, karena menurutnya derajatku lebih tinggi. Hal itu yang membuat aku merasa sangat bersalah. Memang aku dulu pernah dekat sekali dengan perempuan itu, tapi entah aku dan dia menjadi sangat jauh.Tetapi menurutku jarak tercipta bukan karena masalah ekonomi, matre sekali aku kalau menjauhi dia karena hal itu. Tetapi karena memang obrolan kita yang tidak pernah senada.
Apakah semua orang berpikir sepertiku ?.
Bahwa di dunia yang sesak ini orang lain hanya sebagai pelengkap,dan kebahagiaan bisa diciptakan tanpa pelengkap. Bahwa dunia ini bising, dan nyatanya tidak semua orang nyaman dengan situasi yang bising sering mereka menyukai situasi yang hening.
Memang pendapatku itu benar kata temanku , tetapi karena pendapat yang aku jadikan pedoman aku menjadi sosok yang individualis, egois,dan bahkan suka meremehkan orang lain. Jadi, mungkin anggapan “teman musiman” patut dilekatkan kepada aku. Ah sial.Begitu rumit hanya ingin menjalin pertemanan bahkan teman intim yang kusebut persahabatan, hmmmmm.
Apa begini aku yang terlalu hati-hati menjadi aku yang terlalu membuat jarak. Aku yang memukul rata semua manusia menjadi aku yang membuat kita seakan memiliki kasta. Aku yang sulit menaruh rasa percaya menjadi aku yang susah menjalin komitmen bersama.( Eh pantesan aku jomblo wkwkwk ).
Segelas kopi sembur susu habis, meninggalkan ampas kopi yang sangat pekat dan gelap, pertanda malam sudah beranjak larut, namun obrolan tentang “aku” belum selesai. Aku masih bingung untuk menyikapi aku yang masih sangat berpegang teguh pada ke-akuanku. Gemas sekali.
Dipenghujung obrolan kami, ada beberapa pesan dari temanku untuk aku. Jangan pernah berhenti berbuat baik karena suatu saat Tuhan akan membalas kebaikanmu tetapi jangan pernah mengharap balasan itu, jangan pernah memukul rata semua manusia dan beranggapan bahwa mereka semua sama, karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, pahami. Jangan pernah meninggalkan mereka yang lama demi mereka yang baru, karena yang baru pasti akan menjadi lama seperti mereka seiring berjalannya waktu.Ingat roda itu berputar, jangan hanya eksistensi dunia yang kamu kejar. Dekati pencipta maka kamu akan dimudahkan segalanya, dicukupi segala kebutuhannya.
Sudah menjadi konsekuensi bagi manusia untuk hidup bersama, hal yang sangat salah ketika kita memilih hidup sendiri. Memang benar, kamu untuk sekarang ini hiduo sendiri itu baik, tapi apakah benar juga yang baik hari ini akan baik di hari esok.
BalasHapushal yang perlu dicatat juga, ketika kamu punya suatu masalah semisal hubungan sosial, lantas apakah kamu harus menghindar dari masalah itu. "hidup ini akan terasa baik, ketika kita bisa menikmati hal yang baik itu"
Yg penting jangan merasa sepi ditengah keramaian
BalasHapus