Minggu, 03 Mei 2020

Rumah

Bukan lagi tempat untuk sekedar singgah,
tapi tempat melepas gundah
Bukan lagi tempat untuk sekedar berlabuh, 
tapi tempat melepas peluh. 

Rumah 
Bagiku,
Bagaimanapun tetap gagah, 
segagah tatapan ayah
Bagiku,
Bagaimanapun tetap syahdu, 
Se-syahdu pelukan ibu

Ranah

Pada ranah aksara..
Aku ingin ada goresan yang menjelma kita.
Membangun kemungkinan untuk hidup bersama.

Pada ranah aksara..
Aku ingin kita bernostalgila.
Itu kata yang aku cipta
Untuk  memberi ruang pada, kenang awal pertama kita berjumpa..

Pada ranah aksara..
Aku ingin berkata,
Tentang bagaimana kita semestinya, aku mencintaimu apa adanya, sampai Tuhan memanggil salah satu dari kita

Sabtu, 05 Oktober 2019

*Buku, Kacamata, dan Senyumanmu* _untuk gadis bermata embun_


Suatu sore, kulihat seorang gadis tengah duduk manis di beranda rumah. Jari-jarinya yang mungil membelai lembut anak-anak kata dalam pangkuannya. Matanya indah, bersih, seperti sebuah senyum yang tercermin di bibirnya.

"Nama kamu siapa?" tanyaku.
Dia diam.
"Maaf, nama kamu siapa?" aku mengulang.
Berharap diam bukanlah akhir dari sebuah percakapan. Namun sayang, tak ada nama.
Tak ada inisial.

Tatkala jingga menenggelamkan tubuhnya,
kusadari aku tenggelam dalam lamunan.

Ys

Sabtu, 23 Februari 2019

Kedai Kopi

      Menurutku memang nyaman duduk santai di kedai kopi,menikmati senja yang tak tampak sama sekali, menghabiskan waktu bersama teman untuk berdiskusi, entah tentang politik, keluarga, maupun hati. Seperti sore tadi, awalnya tidak ada niatan sama sekali, ngobrol di kedai kopi, tapi nyatanya aku duduk disana sampai lupa diri yah dari pukul 15.30 sampai 22.03. Dari mulai hanya ada lima manusia hingga semua kursi dipenuhi oleh manusia –manusia yang disibukkan oleh duniannya.

Seperti aku, kuceritakan semua masalahku kepada temanku, tanpa ada satupun yang aku tutupi. Dari situ aku merasa sangat beruntung punya mereka yang sangat setia menemani,punya mereka yang mau mendengarkan masalah-masalah konyolku,mulai dari masalah uang, teman, hingga gebetan, aku senang punya mereka yang tidak pernah pergi.  Tapi terkadang aku merasa mereka tidak beruntung punya teman seperti aku, yang jujur menurutku, aku sangat membosankan, datang hanya ketika aku butuh mereka ,sedang ketika mereka membutuhkan aku, aku terkadang malah pergi. Aku memang egois, aku sudah mengaggap semua orang sama hanya karena sesorang yang pernah sedekat urat nadi kemudian pergi sejauh matahari.

Sejahat itukah aku ?.

Sore itu juga menyadarkan aku, bahwa ternyata ada seseorang yang ingin menjadi temanku, lebih dekat denganku tetapi dia berpikir ulang untuk dekat dengan aku dan memilih pergi, karena menurutnya derajatku lebih tinggi. Hal itu yang membuat aku merasa sangat bersalah. Memang aku dulu pernah dekat sekali dengan perempuan itu, tapi entah aku dan dia menjadi sangat jauh.Tetapi menurutku jarak tercipta bukan karena masalah ekonomi, matre sekali aku kalau menjauhi dia karena hal itu. Tetapi karena memang obrolan kita yang tidak pernah senada.

Apakah semua orang berpikir sepertiku ?.

Bahwa di dunia yang sesak ini orang lain hanya sebagai pelengkap,dan  kebahagiaan bisa diciptakan tanpa pelengkap. Bahwa dunia ini bising, dan nyatanya tidak semua orang nyaman dengan situasi yang bising sering mereka menyukai situasi yang hening.

Memang pendapatku itu benar kata temanku , tetapi karena pendapat yang aku jadikan pedoman  aku menjadi sosok yang individualis, egois,dan bahkan suka meremehkan orang lain. Jadi, mungkin anggapan “teman musiman” patut dilekatkan kepada aku. Ah sial.Begitu rumit hanya ingin menjalin pertemanan bahkan teman intim yang kusebut persahabatan, hmmmmm.

Apa begini aku yang terlalu hati-hati menjadi aku yang terlalu membuat jarak. Aku yang memukul rata semua manusia menjadi aku yang membuat kita seakan memiliki kasta. Aku yang sulit menaruh rasa percaya menjadi aku yang susah menjalin komitmen bersama.( Eh pantesan aku jomblo wkwkwk ).

Segelas kopi sembur susu habis, meninggalkan ampas kopi yang sangat pekat dan gelap, pertanda malam sudah beranjak larut, namun obrolan tentang “aku” belum selesai. Aku masih bingung untuk menyikapi aku yang masih sangat berpegang teguh pada ke-akuanku. Gemas sekali.

Dipenghujung obrolan kami, ada beberapa pesan dari temanku untuk aku. Jangan pernah berhenti berbuat baik karena suatu saat Tuhan akan membalas kebaikanmu tetapi jangan pernah mengharap balasan itu, jangan pernah memukul rata semua manusia dan beranggapan bahwa mereka semua sama, karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, pahami. Jangan pernah meninggalkan mereka yang lama demi mereka yang baru, karena yang baru pasti akan menjadi lama seperti mereka seiring berjalannya waktu.Ingat roda itu berputar, jangan hanya eksistensi dunia yang kamu kejar. Dekati pencipta maka kamu akan dimudahkan segalanya, dicukupi segala kebutuhannya.